Balajar Lari (2) : Mencatat Perkembangan Lari. Belilah Sepatu Lari.

Catatan penting episode ini :

  1. Gunakan aplikasi pencatat lari untuk mengetahui berapa lama dan berapa jauh Anda lari. Beberapa contoh aplikasi : Samsung Health, Strava, Endomondo, Gerak (Indonesia), Relive atau jam tangan pintar seperti Garmin.

Mengapa harus tercatat ? Anda harus mengetahui perkembangan pencapaian kualitas lari. Dengan adanya catatan, itu akan memotivasi untuk mengalahkan pencapaian diri sendiri. Share hasil catatan di media sosial : Instagram, Status WA atau di Facebook.

Saya mencatat segala perkembangan lari dengan Strava. Ternyata itu benar-benar memotivasi diri. Memotivasi untuk mengalahkan kemampuan saya sendiri yang telah tercatat sebelumnya.

  1. Belilah Sepatu Khusus Lari

Lebih mahal lebih baik. Mengapa? Semangat akan muncul, kalau Anda sudah terlanjur membelanjakan uang cukup banyak untuk membeli sepatu baru. Anda akan merasa sayang, kalau sepatu mahal tetapi tidak pernah dipakai. Minimal, Anda akan disemprot oleh suami / istri, kalau sudah keluar duit banyak, tetapi tujuan membeli barang tidak diwujudkan.

Kalau Anda berniat belajar lari, maka memiliki sepatu lari itu penting. Dalam episode selanjutnya, saya akan bercerita pentingnya sepatu lari : untuk mencegah cedera. Sepatu apapun itu tidak akan berpengaruh, kalau hanya untuk dipergunakan jalan kaki selama 30 menit. Akan tetapi sepatu asal-asalan akan berdampak serius, kalau dipergunakan untuk berlari minimal 1 jam.

+++++

Di awal belajar lari, mulailah dengan mix antara jalan dan lari. Jalan dulu sekitar 15 – 20 menit. Anggap sebagai pemanasan. Setelah persendian dan otot kaki telah lemas, baru kemudian belajar lari. Lari-lari kecil dulu. Sekuatnya. Tambahkan waktu dan jarak pada hari berikutnya.

Percayalah, tubuh punya daya adaptasi luar biasa. Suatu saat, Anda akan merasakannya sendiri. Cepat atau lambatnya adaptasi, tergantung semangat masing-masing.

Sesuai dengan panduan yang pernah saya dapatkan, agar bisa tetap bugar, maka badan harus bergerak minimal selama 150 menit per minggu. Jika jogging selama 5 hari, maka sekali jogging minimal 30 menit.

Kalau sudah bisa jogging rutin 150 menit per minggu dan makan secara normal, maka Anda pasti bisa mulai mengendalikan berat badan.

Namun perlu diketahui, kalau Anda berniat mengurangi berat badan, maka yang Anda lakukan adalah :

  1. Lari minimal 45 menit selama 5 kali dalam seminggu.
  2. Diet makan. Kalau yang saya lakukan : pagi makan nasi porsi sedikit, siang makan biasa dan malam makan buah saja.

+++++

Pada cerita sebelumnya, saya sudah bertekad untuk tetap sehat dan bugar. Namun kondisi siku yang sedang cedera (tenis arm) membuat saya harus mencari alternatif selain tenis untuk olah raga. Awalnya, saya melanjutkan kebiasaan jalan kaki (hash) di pagi hari.

Hanya saja saya merasakan ada yang kurang pas. Kalau hanya jalan kaki, keringat yang keluar hanya sedikit. Kebugaran juga tidak terasa nyata.

Kebetulan, ada informasi dari sopir kalau tidak jauh dari rumah dinas, ada Lapangan Gulun (di Madiun) yang biasa dipergunakan untuk Jogging. Ada Jogging track-nya. Ada alat untuk fitness juga. Wah, pas ini.

Mulailah saya mencoba belajar lari, dicampur dengan jalan kaki. Awalnya saya lari dan jalan kaki di jogging track. Beberapa kali putaran.

Lama-lama saya justru merasa terganggu ketika lari di jogging track. Karena banyak juga orang lain dan berombongan yang jalan kaki. Pada beberapa kesempatan, saya harus mencari jalur untuk menyalip rombongan pejalan kaki itu. Ribet.

Akhirnya, saya memilih lari di luar jogging track. Lari di jalan aspal di luar lapangan.

Sejak bulan Februari 2019, saya mulai rutin dan aktif belajar lari. Dengan tekad kuat, disiplin tinggi, mengalahkan keinginan untuk bersantai di pagi hari. Memilih menata waktu agar pagi-pagi bisa lari. Saya mulai mengalokasikan waktu dan konsentrasi untuk belajar lari.

Pada tanggal 7 Maret 2019, saya baru mulai mencatat hasil lari di aplikasi Strava dan share di Instagram. Saat itu saya “berhasil” lari sejauh 2,6 km selama 24 menit. Pace 9:13 menit / km. Artinya, jelas. Catatan itu mixed antara lari dan jalan kaki. Itu adalah bulan ke-2 saya mulai belajar lari.

Saya masih ingat betul, ketika mencapai jarak dan waktu itu, saya sudah habis-habisan. Kepayahan.

Ternyata, sedikit demi sedikit, pelan tapi pasti, saya bisa meningkatkan kemampuan lari. Kuncinya : mampu mengalahkan rasa malas dan disiplin tinggi. Hingga pada level merasa bersalah, kalau tidak lari.

Mengapa ? Ini moto saya : Saya harus gigih dan disiplin dengan diri sendiri. Karena yang mampu menjaga fisik saya tetap prima bukan orang lain, bukan makanan, apalagi obat, tetapi kemauan dari diri saya sendiri.

Bersambung

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*