Belajar Lari (1) : Berat Badan, Problem Utama

Perkenalkan saya Suhartono, alumni Teknik Kimia UGM Angkatan tahun 1987. Saat ini bekerja di salah satu Bank BUMN.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi cerita mengenai keberhasilan saya dalam menangani masalah berat badan. Saya berhasil menurunkan berat badan 11 kg. Dari 69 kg menjadi 58 kg dalam kurun waktu sekitar 1 tahun. Caranya alami, ilmiah, tanpa obat-obatan dan tidak melalui diet terlalu ketat, yaitu dengan cara berlari.

Agar lebih menarik dan tidak membosankan, tulisan akan saya buat dalam bentuk artikel bersambung. Ini awal ceritanya.

+++++

Selain target bisnis, dapat dikatakan bahwa problem utama para pekerja saat ini adalah berat badan. Obesitas. Itu adalah rata-rata kesimpulan hasil Medical Check Up rutin tahunan.

Itu juga yang (pernah) menjadi problem saya.

Oleh karena itu, pada awal tahun 2019, saya membuat resolusi untuk berubah :

“Menjaga kebugaran dan berat badan dengan rutin jogging.”

Mudah diucapkan sih, tapi apakah mudah pula untuk dilakukan?

Apa yang saya lakukan?

Keinginan utama saya adalah bagaimana caranya agar badan saya selalu sehat, bugar dan tidak overweight. Minimal berat badan tidak nambah lagi. Syukur bisa turun.

Apalagi, usia saya sudah melewati angka 50. Angka yang mestinya menjadi penyadar, bahwa saya sudah masuk katagori tua. Harus mulai tahu diri. Keharusan menggunakan kacamata plus ketika membaca, menunjukkan bahwa “pesan” itu semakin jelas.

Namun, upaya melakukan perubahan pada diri sendiri itu, dihadapkan pada tantangan : sulit konsisten dan disiplin untuk mengupayakan perubahan itu. Banyak kendalanya : malas bangun pagi, lebih asyik akses media sosial, capek bekerja, dll.

Empat tahun lalu, ketika masih di Sumbawa, sebenarnya saya sudah mulai “belajar” menjaga berat badan dan kesehatan, yaitu dengan cara ikut klub hash. Itu adalah klub jalan kaki. Kami melakukan jalan kaki bersama seminggu 3 kali pada pagi hari, ditambah 1 kali seminggu pada Minggu siang.

Lumayan. Selain mendapatkan kondisi badan yang cukup prima, saya bisa mendapatkan foto special : sun rise pagi hari. Foto itu selalu menjadi pendamping sharing rutin di media sosial saya : #Kutipan hari ini. Hingga saat ini.

Seiring berjalannya waktu, setelah beberapa personel utama klub hash pindah keluar kota dan kesibukan kerja, aktivitas hash juga semakin jarang.

Selain hash, saya juga main tenis seminggu sekali. Yang saya rasakan, setiap selesai main tenis, badan capek luar biasa. Aktivitas tenis itu mulai berkurang, ketika saya terkena “Tennis Arm”. Itu adalah cidera khas pemain tenis di siku yang mengharuskan istirahat tidak main tenis selama minimal 3 bulan berturut-turut.

Karena kurang bergerak, ada efek lanjutannya. Berat badan saya yang sebelumnya stabil, pelan tapi pasti, bertambah tiada henti.

Nah, pada awal tahun 2019 kemarin, saya mendapatkan SK pindah ke Madiun. Bersyukur karena dekat Jogja. Home Base saya.

Masalahnya, lengan masih cedera sehingga belum bisa main tenis. Juga, belum tahu dan kenal dengan klub hash di Madiun. Akhirnya, saya mencoba untuk melanjutkan aktivitas jalan kaki (hash). Sendiri.

Apakah dengan jalan kaki (hash) cukup untuk mengelola berat badan?

Bersambung

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*