Belajar Lari (3) : Gradual (Sedikit Demi Sedikit).

Pencapaian dalam kemampuan berlari, dilalui melalui proses. Tidak bisa dan bahkan tidak boleh secara instan. Apalagi seperti saya yang sudah berumur. Lebih dari 50 tahun.

Saya tidak tiba-tiba bisa lari sejauh 10 km. Tidak bisa tiba-tiba tahan berlari selama 1 jam tanpa istirahat. Tiga bulan pertama belajar lari, saya masih terengah-engah ketika mencapai jarak 4 km.

Lingkar perut yang mengecil juga tidak terjadi sekonyong-konyong. Saya perlu berlatih berbulan-bulan. Sit up 50 kali. Push up 30 kali. Rutin, rata-rata 3 kali seminggu. Saya juga mengurangi porsi makan malam, dengan hanya mengkonsumsi salad buah.

Hari demi hari saya berlatih dan beradaptasi dengan kemampuan tubuh saya sendiri. Melawan rasa sakit. Mengalahkan rasa malas.

Tekad saya satu : mampu mengontrol berat badan.

Apakah semuanya mulus? Tidak. Ada 3 ujian pokok dan berat ketika belajar lari :

1.Mengalahkan rasa malas. Mendisiplinkan diri untuk taat dengan jadwal yang sudah dicanangkan sendiri.

Saya biasa lari pada pagi hari. Sebelum bekerja. Kebetulan saya hanya sendirian di rumah dinas di Madiun. Karena keluarga di Jogja. Saya biasanya bangun pas adzan subuh sekitar jam 04:30. Rutin. Begitu mendengar adzan subuh, langsung bangun. Aktivitas pribadi sekitar setengah jam. Setelah itu, mendisplinkan diri lari mulai jam 05:00 – 06:00.

Ketika jadwal itu sudah menjadi kebiasaan. Percayalah, bangun pagi itu bisa otomatis. Tidak berat. Biasa saja. Bahkan, setelah rutin olah raga, tidak ada lagi rasa mengantuk dan capek.

Tantangan dan hambatan terbesar itu justru sepertinya sepele : akses media sosial. Kalau sudah membuka dan membaca WA, Facebook atau Instagram, maka terkadang keasyikan. Tidak terasa waktu habis. Makanya, di pagi hari itu, saya sangat membatasi membuka media sosial.

2. Rasa pegal, tidak nyaman, bahkan sakit di otot dan persendian kaki.

Ya, benar. Ujian paling berat bagi orang yang belajar lari adalah di awal 7 – 10 menit pertama berlari. Ketika keringat pertama akan menetes, maka segala rasa sakit tersebut akan muncul. Seluruh persendian dan otot yang bergerak, terasa sakit. Hati kecil akan bilang,

“Sudah berhenti saja. Sakit, pegal dan capek!”

Kalau Anda sudah bisa mengalahkan rasa sakit itu, selamat! Anda bisa melanjutkan ke tahap lari yang berkualitas selanjutnya.

3. Napas terengah-engah.

Di awal belajar lari, napas akan cepat terengah-engah. Apalagi kalau larinya langsung kencang dan tanpa pemanasan. Saran : kenali kemampuan diri. Di awal belajar lari, jangan memilih belajar kecepatan lari, tetapi durasi lari.

+++++

Nah, saya punya catatan lari. Karena kebetulan saya rajin posting hasil lari di Instagram.

Berikut ini data statistik perkembangan pencapaian lari saya via Strava di Instagram :

Tanggal Jarak Waktu
————— ———– ————–
20/03/19 3,0 km 00:24:09
26/03/19 4,6 km 00:35:31
31/03/19 5,0 km 00:38:28
11/04/19 6,0 km 00:49:23
19/06/19 7,2 km 00:54:08
22/06/19 8,1 km 01:12:00
01/07/19 9,0 km 01:09:00
12/07/19 10,2 km 01:23:00
19/08/19 10,3 km 01:12:00
12/09/19 11,1 km 01:14:00
07/10/19 10,0 km 01:06:00
22/11/19 10,1 km 01:02:00
14/12/19 21,9 km 02:20:00
19/01/20 21,0 km 02:26:00

Dari statistik di atas menunjukkan bahwa saya membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk bisa lari mencapai jarak 3 km. Perlu waktu tambahan sekitar 3 bulan lagi untuk bisa mencapai jarak 7 km. Namun hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 bulan kemudian untuk bisa mencapai jarak 10 km. Untuk mampu berlari mencapai jarak lari 21 KM (Half Marathon) perlu waktu 5 bulan sejak berhasil lari 10 KM.

Seiring dengan kemampuan berlari dan sedikit upaya diet, berat badan saya yang sebelum bulan puasa (Jan – Apr) adalah 68-69 kg, setelah puasa (Mei – Jun) berada di 62-63 kg. Bulan Jan-20 sd saat ini stabil di 58 – 59 KG. Total turun sekitar 10 – 11 KG.

Semuanya perlu dan penuh perjuangan. Gradual. Melalui adaptasi, sedikit demi sedikit.

Saya merasakan benar kalimat inspiratif ini :

“Hanya yang benar-benar berjuang, yang bisa merasakan indahnya pencapaian.”

Ayo berjuang. Kalahkan diri sendiri dan nikmati hasilnya.

Bersambung

2 Comments

Leave a Reply to Widia Cancel reply

Your email address will not be published.


*